Buku Filsafat

Buku Sufi



Buku Politik

Buku Sastra

Judul: Mutiara Al-Qur'an (Cahaya untuk Seluruh Alam)
Penulis: Bambang Cipto
Penerbit: Simpang, 2021
Tebal: vi + 188 hlm
Ukuran: 140 x 200 mm

Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Al-Quran dengan demikian sesungguhnya bukanlah ditujukan semata-mata bagi umat Islam namun seluruh umat manusia dan bahkan bagi seluruh alam semesta. Kitab suci ini diturunkan setahap demi setahap kepada Rasululllah untuk diajarkan kepada seluruh umat manusia. Bahkan lebih luas lagi kitab ini ditujukan agar seluruh semesta alam pun mendapatkan cahaya dan petunjuk-Nya berupa rahmatan lil alamin.

Buku ini merupakan kumpulan ceramah yang disampaikan penulis di beberapa forum dalam kurun waktu setahun terakhir. Buku di tangan Anda ini bukanlah sebuah tafsir akan tetapi lebih sebagai refleksi penulis terhadap ayat-ayat Al-Quran yang disusun berdasarkan topik tertentu dan dijadikan bahan untuk menyampaikan ceramah di beberapa forum terbatas sebagaimana disampaikan di atas. Semoga buku kecil ini bermanfaat bagi para pembaca yang dirahmati Allah.

Judul: Pembangunan Masyarakat yang Berpihak (Refleksi Seorang Pekerja Pembangunan)
Penulis: Bambang Soetono
Penerbit: Simpang Nusantara, 2021
Tebal: xx + 196 hlm
ISBN: 978-623-96479-2-6

Bagi yang berminat,
silakan order via WA 08128402365

Buku yang ditulis oleh Mas Bambang Soetono ini menarik. Selain ditulis oleh orang yang mengetahui persis tentang pembangunan dan pemberdayaan yang terjadi di lapangan, juga oleh orang yang memiliki latar belakang studi di bidang hukum yang matang. Karena itu, pilihan refleksi yang ditulis di sini, merupakan cerminan dari pengalaman lapangan dan perspektif akademik yang dimilikinya. Pendekatan kelembagaan baru menjadi titik tolak dari pembahasan. Bahwa apa yang terjadi di pedesaan pasca reformasi merupakan bagian dari ‘keinginan politik’ untuk mengubah nalar pembangunan, dari sebelumnya tersentralisasi menuju terdesentralisasi, dari yang sebelumnya hanya terkonsentrasi di perkotaan menuju ke arah yang lebih adil ke pedesaan. Tetapi, mewujudkan ‘keinginan politik’ itu tentu saja tidak seperti membalik telapak tangan. Apa yang ditulis oleh Mas Bambang ini, karena itu, menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi para pengambil keputusan dan para stakeholders pembangunan pedesaan.

Prof. Kacung Marijan (Guru Besar FISIP Universitas Airlangga dan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya)

Buku ini sangat menarik, memberikan gambaran konteks yang komprehensif tentang akses keadilan bagi orang miskin. Kondisi riil yang dihadapi oleh masyarakat miskin dalam mencari keadilan selalu mengalami ketidakadilan hukum. Orang miskin akan makin miskin dan diperlalukan secara tidak manusiawi, termasuk ketika mengalami masalah hukum. Buku yang ditulis ini merupakan refleksi panjang dari pengalaman yang digeluti selama ini oleh Mas Bambang. Sangat bermanfaat, menjadi referensi penting melihat konteks Indonesia yang beragam dari berbagai aspek termasuk aspek keadilan bagi masyarakat miskin.

Bagaimana mekanisme informal yang dimiliki oleh masyarakat, perlu dilestarikan atau dihidupkan kembali dalam proses penyelesaian sengketa. Tidak semua perkara harus digiring di ruang sidang. Mekanisme informal menjadi pilihan yang tepat dengan mempertimbangkan aspek geografis, biaya dan melibatkan berbagai pihak dalam desa yang dianggap tokoh atau tua adat untuk penyelesaian sengketa karena mudah dan tertangani. Pengalaman kasus-kasus yang dituangkan dalam buku ini memberikan masukan bagi kita semua dalam memperkuat dan mengedukasi masyarakat miskin terkait dengan akses keadilan hukum. Selamat dan terus berkarya Mas Bambang.

Baihajar Tualeka (Pendiri LPPA, Aktivis Perdamaian Maluku)

Isu penguatan hukum perempuan dan penguatan penyelesaian sengketa informal bagian yang diidentifikasi, dibahas dan diperbincangkan dengan menggunakan pendekatan teori dan analisis gender dalam pembangunan serta pengambil kebijakan. Tulisan dalam buku Pembangunan Masyarakat oleh seorang yang mengaku pekerja pembangunan, benar-benar bekerja dengan sepenuh "HATI". Menjembatani antara teori, kebijakan, dan pelaksanaan pembangunan. Menarik untuk di baca, dicermati, dan dianalisis oleh kalangan aktivis, pemerhati, peneliti, LSM, pengambil kebijakan serta akademisi. Saya sangat mengapresiasi kehadiran buku ini, menambah kekayaan keilmuan, pengetahuan wawasan, dan referensi.

Ir. Fitriyanti (Koalisi Perempuan Indonesia/KPI Sumatera Barat)

Wasiat buat Mas Bambang. Kumpulan tulisan Mas Bambang Soetono di dalam ”Refleksi Pembangunan Masyarakat yang Berpihak”, menghadirkan poin-poin penting pembelajaran dari gerakan pemberdayaan masyarakat di Indonesia. Disajikan secara ringan, kumpulan tulisan ini menawarkan perspektif yang mudah dicerna. Penggunaan dan pemilihan contoh yang populer dan tepat memudahkan pembaca untuk memahami sekaligus terlibat di dalam diskusi pemberdayaan masyarakat di Indonesia. Saya, sebagai sesama pelaku pemberdayaan, merasa dekat dan menangkap ide-ide penting pembahasan buku ini. Saya yakin tulisan ini akan semakin kuat dan kaya jika ditambahkan contoh-contoh kasus serupa dari negara lain sebagai pembanding. Selain itu tulisan ini juga akan sempurna jika di bagian akhir merekomendasikan solusi prediktif, misalnya konsep collaborative governance, bagi upaya pemberdayaan masyarakat di Indonesia.

Luthfi Azhari (Team Leader Democracy, Rights and Governance Development Objective, USAID)

Mengenal Mas Bambang adalah sosok lain di balik boomingnya skema Community Development sejak bergulirnya Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Dan buku ini sebagai sebuah sintesis baru bahwa sudah saatnya masyarakat memiliki ruang terbuka untuk mengakses keadilan sosial dalam seluruh program dan kegiatan sebagai daulat yang tercermin dalam pelimpahan kuasa rakyat, adanya jaminan regulasi yang berpihak pada rakyat sehingga terciptanya masyarakat yang berdaya, baik di desa sebagai kelembagaan maupun dalam tataran komunitas warganya.

Kandidatus Angge (Koordinator P3MD - Provinsi NTT)

Membaca buku ini membuat kita seolah-olah hadir di desa-desa, di daerah di mana kita melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat yang kurang mendapatkan akses keadilan hukum dan sumber daya lainnya. Kemudian bagaimana kita melakukan pendampingan agar masyarakat dekat dengan akses sumber daya tersebut dengan menjadikan program-program pemerintah sebagai solusi. Dengan begitu, kita diundang untuk ikut menghayati peran penting seorang pekerja pembangunan dalam berkontribusi untuk kebaikan negeri. Bacalah buku ini!

Jro Mangku I Kadek Suardika (Tenaga Ahli P3MD - Provinsi Bali)





Judul: Dasar-dasar Bahasa Belanda
Penulis: Rifqi Amrulah Fatah
Penerbit: Simpang, 2021
Tebal: x + 106 hlm; 130 x 200 mm

Setelah kemerdekaan Indonesia, bahasa Belanda seakan tidak terlalu mendapat perhatian. Akan tetapi, bahasa Belanda masih menjadi salah satu bahasa sumber atau referensi yang sangat penting di negara ini. Dokumen-dokumen pemerintahan penting dalam bahasa ini masih tetap berlaku secara resmi.

Hingga saat ini, keberadaan bahasa Belanda masih menjadi kebutuhan khusus terutama berkait dengan penelusuran sejarah Indonesia. Konon, berton-ton dokumen peninggalan kerajaan di negara ini telah beralih tempat di kepustakaan Belanda. Tak heran jika para akademisi harus mengejar dokumen tersebut untuk melalukan penelitian sejarah.

Buku di tangan Anda adalah langkah awal yang menjadi batu loncatan bagi para pembelajar yang membutuhkan penguasaan bahasa Belanda. Buku yang sederhana dan mudah dipahami ini dilengkapi Tata Bahasa Belanda untuk para pemula.

Judul: Tapak Cinta di Bumi Tuhan
Penulis: Muhammad Arifuddin
Penerbit: Simpang
Tahun: 2020
Tebal: iv + 94 hlm
Ukuran: 140 x 200 mm

Buku di tangan Anda ini adalah sebuah antologi cerpen yang dikemas dari beberapa kisah kehidupan sehari-hari. Meskipun terlihat sangat sederhana, tetapi antologi yang berjudul Tapak Cinta di Bumi Tuhan ini memiliki kisah-kisah inspiratif dan hikmah kebijaksanaan. Setiap penggal ceritanya selalu dibumbui dengan pelajajaran-pelajaran keislaman yang terkadang membuat hanyut pembaca.

Kita bisa mengambil satu contoh kisah, terutama tentang perjalanan tokoh dalam salah satu cerpen di buku ini yang harus menumpang saat tinggal di Prancis. Di negeri orang lain ini, ia justru bertemu dengan keluarga kecil bahagia yang begitu tulus membantunya dalam melakukan perjalanan panjang ke berbagai kota di dunia.

Pemilihan kata yang tepat sepertinya menjadikan antologi cerpen ini terasa lumayan menghanyutkan pembacanya.

Judul: Bersanding dengan Cemas
Penulis: Zhafirah Amalia
Penerbit: Simpang 2020
Tebal: viii + 94 hlm
Ukuran: 145 x 205 mm

Kecemasan adalah kondisi yang pernah menjangkiti hampir setiap orang, tak peduli dengan latar belakang atau status sosialnya. Orang yang mengalami kecemasan berlebihan sering mengalami efek psikosomatik, gangguan panik, hingga fobia. Tak hanya itu, terkadang kecemasan membuat seseorang menjadi tidak fokus dengan pekerjaan dan pikirannya, hanya terpusat dengan kecemasan itu.

Dalam dunia kedokteran dan psikologi, kecemasan berlebihan diartikan sebagai gangguan kecemasan (Anxiety Disorder). Gangguan kecemasan dapat didefinisikan sebagai kondisi perasaaaan yang takut secara berlebihan dan berlangsung terus menerus serta dapat mengganggu seseorang dalam melakukan kegiatan. Kondeisi semacam ini mungkin sedang terjadi kepada banyak orang yang sedang menghadapi isu pandemi selama beberapa bulan terakhir.

Nah, buku yang ada di hadapan Anda ini mencoba mengurai apa sesungguhnya bentuk dan penyebab, serta cara mengatasi kecemasan yang selama ini dapat menjangkit setiap orang. Meskipun terkesan sebagai buku yang sederhana, buku ini diharapkan mampu memperkenalkan efek negatif yang mungkin saja terjadi saat seseorang mengalaminya, dan mampu secara mandiri mengatasinya.


Judul: Manifesto Post-Marxisme dalam Pijar Pemikiran Jurgen Habermas dan Antonio Gramsci
Penulis: Mutiullah
Penerbit: Simpang, 2020
Tebal: xiv + 205 hlm
Ukuran: 150 x 235 mm

Kegelisahan utama buku ini, mengapa Marxisme cepat redup? Padahal, persoalan kemanusiaan semakin curat marut dengan lolosnya kapitalisme sebagai pemenang dalam perang ideologi global. Buku ini menjelaskan beberapa alasan sangat mendasar mengapa Marxisme sebagai ideologi gagal menyelesaikan proyek pembebasan. Pertama, Marxisme cenderung anti-demokrasi. Ini dibuktikan dengan fakta historis bahwa negara-negara yang bermazhab Marxisme baik di Eropa Timur atau pun di Asia menjadi negara otoriter dan bersifat tertutup. Kecenderungan ini menjadi boomerang bagi Marxisme, karena gagasan pembebasan tertutupi dengan sikap otoritarian.

Kedua, Marxisme menunjuk kelas proletar sebagai agen perubahan. Marxisme sangat yakin bahwa kaum proletar akan membawa ke zaman sosialis, yakni masyarakat tanpa kelas ketika hak milik pribadi dihapuskan. Harus diakui, pilihan perjuangan yang terlalu memfokuskan pada perjuangan kelas sosial tertentu, menjadi hal yang sangat dilematis bagi Marxisme. Persoalan-persoalan sosial ekonomi kontemporer tidak semata-mata milik satu kelas sosial, yakni kaum proletar. Persoalan yang lebih menggelisahkan saat ini adalah masalah bersama, yakni krisis lingkungan, krisis pangan dan konflik etnis.

Ketiga, runtuhnya simbol-simbol Marxisme di beberapa negara yang berhaluan Marxisme-komunisme. Uni Soviet atau saat ini disebut Rusia, sudah tidak lagi setia kepada ajaran Karl Marx. Tidak hanya itu, Rusia adalah salah satu negara yang tergabung dalam kelompok negara G-8, yakni negara borjuis-penindas yang bisa menentukan peta ekonomi dunia. Hal yang paling mengejutkan adalah bergantinya Cina sebagai salah satu negara kapitalis Asia. Dengan demikian, Marxisme sebagai mazhab politik sedikit demi sedikit mulai kehilangan kesaktiannya dan digantikan dengan sikap akomodatif terhadap kapitalisme sebagaimana yang terjadi di Rusia dan Cina.

Buku ini menjelaskan Post–Marxisme sebagai jalan liberasi baru, harapan baru dan perubahan substantif yang akan mengantarkan perubahan sosial kolektif berkemajuan. 

Judul: Permata Hati Penuntun Jalan ke Surga (Sebuah Ikhtiar Mewujudkan Birrul Walidain)
Penulis: Muhammad Arifuddin
Penerbit: Simpang, 2020
Tebal: xx + 344 hlm

Berkhidmat dan memuliakan ibu bapak adalah salah satu akhlak yang terpuji. Perintah berbakti kepada keduanya sering disandingkan setelah perintah beribadah kepada Allah Swt.

Karakter yang tertanam di dalam jiwa, itulah akhlak yang sesungguhnya. Buahnya adalah perbuatan nyata yang tampak oleh mata dan terasa oleh jiwa. Bila jiwa dididik sejak kecil untuk berakhlakul karimah, maka keluarlah secara spontanitas dari jiwanya perbuatan-pebuatan yang baik (tanpa terpaksa).

Namun, jika jiwa ditelantarkan dari pendidikan akhlak dan adab sejak dini, maka hal ini akan menumbuhkan buah yang pahit dari jiwa seorang manusia, yaitu akhlak yang buruk. Ataupun jika ia berbuat baik maka ia bertindak dengan terpaksa (alias tidak tumbuh dari keikhlasan dalam hatinya).

Salah satu untuk menumbuhsuburkan adab dan akhlak yang baik ini adalah dengan pendidikan adab dan pendidikan akhlak sejak kecil. Orang tua yang menginginkan putra putrinya menjadi anak saleh yang mau mendoakan keduanya, maka pendidikan akhlak sejak dini adalah suatu keharusan.

Buku ini mengupas mutiara-mutiara berbakti kepada orang tua dan cara mendidik anak agar memiliki akhlak mulia. Di samping itu, disampaikan pula bahayanya durhaka.

Judul: 'Iddah dan Ihdad dalam Mazhab Syafi'i dan Hanafi
Penulis: Yusroh dan Haaniyatur Roosyidah
Penerbit: Simpang, 2020
Tebal: x + 104 hlm
Ukuran: 130 x 200 mm

Di tengah arus utama glabalisasi yang serba instan, pemahaman agama masyarakat mulai tergerus oleh informasi yang terbelenggu dalam logika waktu pendek media. Pergaulan dengan kajian fiqih yang bersumber dari literatur mulai terpinggirkan. Ini adalah fenomena yang membutuhkan perhatian dan kepedulian kaum agamawan dan intelektual, agar umat tidak terus menjadi korban informasi palsu atau hoax, terutama di ranah keagamaan.

Buku kecil ini adalah salah satu ikhtiar menyajikan hasil penelitian terhadap literatur fiqih, baik yang terkait mazhab Syafi'i maupun Hanafi, khususnya mengenai 'Iddah dan Ihdad yang diperlukan tak hanya oleh kaum perempuan.

Sebagai catatan sederhana, buku ini dianggap penting karena masalah yang melingkupinya, termasuk kasus perceraian di Indonesia yang semakin hari kian meningkat. Di luar dari berbagai faktor yang menyebabkan perceraian terjadi, dampak hukum terutama bagi muslimah perlu diperhatikan secara serius yaitu 'iddah dan ihdad.

Judul: Sehimpun Pelangi Cerna
Penulis: Yusroh, Abdul Aziz, Mari Sosia Azzahra, dkk.
Penerbit: Simpang, 2020
Tebal: vi + 208 halaman

Warna-warni cerita sederhana dalam buku ini adalah karya unik yang perlu diapresiasi. Berbagai pengalaman mengarungi kehidupan dituangkan oleh para penulis dengan gaya bahasa yang beragam. Ia seperti pelangi yang memancarkan keindahan dari himpunan warna pantulan. Ada yang memuat kisah sangat pendek tapi bijaksana, terkadang lebih panjang tapi menyejukkan.

Tak salah jika kumpulan itu dikemas menjadi sebuah buku berjudul Sehimpun Pelangi Cerna (Cerita Sederhana). Harapannya, pembaca ikut merasakan kisah-kisah yang kadang menginspirasi, kadang mengikat hikmah, bahkan membuka petunjuk bagi masalah yang mungkin saja sama dan sedang dihadapi pembaca.

Buku ini, meskipun dibuat dari kumpulan cerita sederhana, nilai kemanfaatannya semoga melampaui dari yang sebelumnya dibayangkan oleh para penulisnya. Tak ada yang mampu memprediksi bentuk apresiasi pembaca, sebab setiap kisah mampu ditafsirkan macam-macam oleh pembaca.

Judul: Terbunuhnya Kota Manusia (Kisah-kisah Perlawanan dan Jalan Pembebasan)
Penulis: David Efendi, dkk.
Penerbit: Simpang
Tahun: 2018
Tebal: xii + 380 halaman

Para pembaca yang baik, buku kumpulan tulisan ini diramu dari beragam proses yang sporadis. Wacana warga berdaya di Kota Jogja mewarnai dinamika tersendiri dari sekian banyak proses. Buku ini diharapkan menjadi monumen pengingat bagi kita semua bahwa kota tidak selalu dalam keadaan baik-baik saja. Mereka membutuhkan warganya untuk kembali menjadi kota manusiawi.

Dari sekian banyak kisah urban literacy campaign dengan Hastag #gerakanmembunuhjogja awalnya dimaksudkan untuk kalimat satire pengganti bahwa kami tak rela Yogyakarta dibunuh secara mengenaskan oleh brutalnya kapitalisme dalam praktik bussiness as usual yang diamini oleh rezim tekhnokrasi baik pemerintahan kota maupun DI Yogyakarta pada umumnya. Pemerintahan berkelindan lintas level dan juga berkelindan dengan berbagai aktifitas ekonomi dari bussiness society. Jadi hancur leburnya perkotaan dan perdesaan di DIY ini tidak bisa kita alamatkan kepada walikota semata tetapi semua penguasa termasuk dua institusi pengambang budaya dan tradisi yaitu Kraton Ngayogyakarta dan Pakualaman.

Judul: Civil Society (Konsep Dasar, Wacana, dan Praktik)
Penulis: David Efendi
Penerbit: Simpang
Tahun: 2018
Tebal: xxiv + 344 halaman

Buku ini disiapkan sebagai buku ajar untuk mahasiswa Ilmu pemerintahan atau jurusan Ilmu Politik. Buku ini mengupas konsep dasar masyarakat sipil (Civil Society), turunannya, dan metamorfosisnya. Wacana dan praktik peran-peran organisasi masyarakat juga dilengkapi dengan contoh-contoh dan profil organisasi. Buku yang memang ditujukan untuk membangun pemahaman yang praktis tetapi mencakup banyak materi yang komprehensif termasuk sepak terjang gerakan masyarakat sipil di beberapa negara lain.

 

Judul: Runtuhnya Elite Pedagang Pribumi di Kotagede

Penulis: David Efendi
Penerbit: Simpang
Tahun: 2017
Tebal: xxxiv + 356 hlm halaman

Perjalanan dan dinamikan pedagang di Nusantara menjadi penting untuk melacak keberadaan borjuasi yang muncul pada abad ke-19 dan ke-20. Kelompok borjuis ini lahir dan bermunculan di beberapa daerah (borjuasi etnis) yang kemudian bertemu dalam perdagangan Nusantara sebagai akibat dari perkembangan perdagangan dari pelayaran. Pelacakan kelas borjuasi ini juga dapat diawali dengan pembacaan terhadap kategorisasi Clifford Geertz yang memilah tiga kelompok dalam masyarakat; yaitu golongan Abangan sebagai penduduk desa, kaum Santri sebagai kaum pedagang, dan Priyayi sebagai keturunan bangsawan atau birokrat.

Di Indonesia, akademisi paling 'alfa' untuk mengkaji terma elit dan proses formasi kelas borjuis yang terjadi dalam kurun waktu yang lama sehingga tema elit merupakan tema kajian yang sangat menantang untuk terus menerus diteliti dan dijadikan agenda riset yang berkesinambungan. Di Nusantara ini dengan kondisi yang majemuk, plural, yang mengandung keanekaragaman suku, adat, agama, ras, golongan, bahasa daerah, partai politik, dengan geografi yang terpisah-pisah maka kajian elit akan menjadi sangat menarik terutama upaya pemetaan elit akan memunculkan kajian elit lokal yang sangat beragam dan luas. inilah yang menjadi sangat menarik dan menantang meski tidak mudah menemukan metodologi yang tepat untuk menuntaskan kajian bertemakan elit.