Home » , , » Sekar Sufi Maulawi: Pilihan 120 Ruba'iyat Maulana Jalaluddin Rumi

Sekar Sufi Maulawi: Pilihan 120 Ruba'iyat Maulana Jalaluddin Rumi

Judul: Sekar Sufi Maulawi: Pilihan 120 Ruba'iyat Maulana Jalaluddin Rumi
Dwi Bahasa: Persia-Indonesia
Penyusun & Penerjemah: Ammar Abdillah
Penerbit: Simpang
Tahun: 2020
Tebal: 140 halaman (hard cover)

Maulana Jalaluddin Muhammad Balkhi Rumi berkata dalam syairnya:
ساعتی میزان آنی ساعتی موزون این
بعد از این میزان خود شو تا شوی موزون خویش
#مولوی

Sesaat kau takar dirimu dengan yang itu, sesaat kau selaraskan dirimu dengan yang ini
Setelah ini jadilah takaran untuk dirimu, agar kau selaras dengan diri sendiri


#Maulawi

Betapa perkubuan dan perseteruan demikian pekat. Suara-suaranya memekakkan telinga. Akan tetapi kerasnya suara-suara itu bukan karena kekuatan atau kemantapan. Mereka berteriak karena seberapapun banyak orang di kubunya, jumlah mereka belum cukup. Mereka menarik orang-orang untuk bergabung. Kubu-kubu yang berseteru bersatu dalam satu hal; bahwa tidak berpihak adalah dosa.

Namun apalah arti berpihak kalau tidak berperan di situ. Tidak ada wewenang apapun di tangan kita. Yang dibutuhkan mereka dari kita bukan tangan, apalagi akal, tetapi hanya mulut. Kita hanya jadi juru sorak. Ketika ada kebaikan dikubu itu, pujian tak mengarah kepada kita karena memang kita tidak berbuat apa-apa. Bodohnya kita kalau berbangga atas apa yang tidak kita lakukan.

Namun begitu, kita tidak luput dari cemoohan ketika ada keburukan di kubu itu. Ini bagian yang sangat aneh. Dungunya kita kalau harus berdalih-dalih membela kesalahan yang di luar wewenang kita. Dan kalau kita teliti, sedikit pun tidak ada hubungannya dengan kehidupan kita.

Dengan segala kelemahan yang tidak kita sadari, kita seperti anak unta betina. Kita menempatkan diri sebagai tunggangan namun punggung belum kuat. Lalu kita tempatkan diri di antara unta perahan tetapi belum juga kita bisa menghasilkan susu.

Bagian yang paling mengenaskan adalah, bertahun-tahun kita biarkan diri kita larut dalam arus-arus seperti ini. Semua pembelajaran yang kita tempuh, semua buku yang kita baca dan semua pengetahuan yang ada di kepala, tidak mampu menolong kita dari keterseretan ini, justru semakin menjerat kita lebih erat sehingga seolah tak ada lagi yang bisa menyadarkan kita.

Betapa sia-sia semua karunia yang dititipkan Tuhan dalam diri kita kalau hanya mengendap di kedalaman diri tanpa pernah kita tengok, apalagi kita gali, bahkan banyak dari kita yang sudah tidak menyadarinya lagi. Rahasia agung yang ada dalam diri kita, yang menjadi pembelaan Tuhan atas prasangka para malaikat akan kehancuran semesta oleh tangan kita, hingga kini masih sebatas rahasia saja tanpa kita tergerak untuk menguaknya.

Kapan kita beri waktu diri kita sendiri untuk menakar diri dengan diri sendiri, menjadi mizan untuk diri sendiri, menyelami karunia Tuhan itu, lalu menyelaraskan diri kita dengannya, menguak rahasia agung itu agar tampak dalam laku kehidupan, agar para malaikat bersujud kepada kita sebagaimana yang difirmankan oleh Sang Pencipta?

Ammar Abdillah
 
Copyright © 2016 Penerbit Simpang Supported by Portal Buku